Selasa, 12 Mei 2009

Mencicipi Pantai-pantai Virgin di Bali



Pantai Geger (atas)





Pantai Padang-padang (atas) dan Pantai Uluwatu (bawah)




Namanya wisata, umumnya yang dicari adalah 3S : see, sun and s.. hihihi maaf yang terakhir itu ga bisa saya sebut . Well, kalo kita inget Bali pastinya wisata ‘Sun’ adalah yang termasyhur. ‘Bali punya gorgeus landscape ’, begitu puji SBY di pembukaan ADB Annual Meeting yang disambut riuh seluruh audiens. Pastinya, kalimat tadi merefer ke puluhan pantai yang dimiliki Bali. Sudah barang biasa kita dengar nama-nama pantai seperti Kuta, Sanur, Nusa Dua atau Jimbaran. Harus diakui keindahan pantai-pantai tadi memang masih legendaris, tapi keramaiannya itu yang membuat wisatawan kadang mencari pantai lain yang punya taste ketenangan dan alam yang masih perawan. Di selatan Bali, sekitar 20 km dari bandara Ngurah Rai kita bisa temukan keunikan ini. Cobalah kunjungi pantai Geger, Uluwatu atau Padang-padang.

Pantai Geger berlokasi di wilayah Nusa Dua. Tinggal belok kanan di perempatan akhir jalur By Pass Ngurah Rai, Pantai Geger bisa ditempuh 10 menit dari jalur tersebut dengan mobil pribadi atau motor. Nggak seperti pantai-pantai di Jawa yang selalu pasang tarif untuk dikunjungi, pantai-pantai Bali terkenal gratisan. Kita cukup menyediakan kocek Rp 1.000,- untuk parkir atau tidak perlu sama sekali karena banyak juga yang tidak ada penjaga parkirnya. Begitu juga dengan pantai Geger, konsepnya all you can eat (dalam bahasa saya he2) soalnya kita bisa menikmati keindahannya sepuasnya, sepi dan gratis-tis. Ketenangan di Pantai Geger dijamin, nggak ada turis sama sekali di pantai ini karena sepertinya potensi yang dimiliki belum begitu diekspos.

Di awal memasuki kawasan pantai Geger kita akan disambut oleh lahan parkir yang cukup luas tapi belum terkelola, ditambah lagi dengan sebuah resto seafood yang agak sepi. Untuk turun ke pantai harus melewati semak belukar yang agak tinggi. Tapi jangan khawatir karena semak-semak ini nggak terlalu luas. Di akhir semak-semak tadi kita akan menemui tangga kecil ke arah bawah untuk melintasi batu karang dan akhirnya sampai ke pasir putih pantai ini. Keindahannya terasa betul karena susunan batu karang didukung dengan pasir putih yang landai terlihat begitu kompak dengan permukaan laut yang berwarna kebiruan. Apalagi ditambah dengan suasana tenangnya, membuat kita lupa sejenak akan kepenatan hidup di kota. Sayangnya bila mengunjungi tempat ini agak sore, ombaknya begitu besar sehingga tidak bisa dinikmati untuk berenang.

Pantai selanjutnya adalah pantai Padang-padang dan Uluwatu. Jalur ke pantai ini bisa melewati By Pass Ngurah Rai ke arah Universitas Udayana atau lewat jalur Jimbaran. Kedua jalur tersebut mengarah pada sebuah bukit kapur di jalan raya Uluwatu. Di hulu jalan tersebut banyak sekali terdapat resor-resor terkenal dan melewati kawasan Garuda Wisnu Kencana Cultural Park tentunya. Berjalan terus ke arah timur setelah kawasan resor Pecatu, akan banyak ditemui homestay-homestay dan sejumlah resto sederhana yang menawarkan makanan bercita rasa internasional. Nah di sekitar sinilah letak pantai Padang-padang. Keindahannya sudah terlihat dari atas jembatan yang kita lewati (lihat foto). Memasuki pantai ini, kita disambut oleh pura kecil yang eksotis karena menghadap langsung ke pantai dari atas ketinggian bukit. Setelah itu kita harus melintasi celah kecil yang terbentuk dari batu karang. Pantainya sendiri sangat landai dan pasirnya begitu putih. Namun air laut disini menjadi daya tarik utama karena jernih dan sangat kondusif untuk berenang. Bagi yang mau mencoba surfing, disinilah tempatnya. Nggak perlu capek mengayuh ke tengah laut untuk mencari ombak, di sini ada beberapa nelayan yang menawarkan jasanya untuk membawa kita ke tengah laut.

Pantai yang terakhir adalah pantai Uluwatu. Jarak antara pantai Padang-padang dengan Uluwatu tidak begitu jauh. Estimasi saya mungkin sekitar 5 km. Nah disinilah tempat terbaik untuk surfing, ombaknya begitu stabil bahkan sampai menjelang malam. Mau berenang, kejernihan pantai ini nggak kalah dengan pantai padang-padang. Batu-batu koralnya yang menyembul diantara jernihnya air juga cocok banget buat foto-foto pre wedding hehehe. Untuk berjemur? Jangan tanya, disinilah saya terkaget-kaget menemukan puluhan bule asyik sunbathing tanpa selembar benang pun. Rasanya nggak seperti di Indonesia lagi yang punya RUU Pornografi. Yeah, siapa yang ngelarang. ‘Ini Bali, bung’, kata teman saya yang besar di Bali.

Sabtu, 09 Mei 2009

Stop Pay Pleace For Parkking

Gambar ini didapat di parkiran pantai uluwatu. coba baca baik-baik..
STOP PAY PLEACE >> ini artinya 'silakan berhenti untuk membayar bukan?'
++ PARKKING
++ TO GO SURF BEACH
++ WE ORGANICE STREET

hehehehe

Jumat, 08 Mei 2009

Terdampar di 42nd ADB Annual Meeting



Ga nyangka, waktu buka email UGM hari itu saya menerima undangan dari ADB untuk menghadiri sebuah acara prestisius. Yup, itu dia ADB (Asian Development Bank) Annual Meeting yang diselenggarakan di Bali International Convention Center (BICC), Westin Hotel and Resort, Nusa Dua Bali. Acara ini dihadiri oleh sekitar dua ribu peserta dari 67 negara anggota dengan agenda berupa sidang tahunan, seminar, eksebisi, presentasi negara-negara anggota dan diskusi panel. Tanpa pikir panjang, saya langsung arrange perjalanan ke Bali. Untungnya waktu itu Mandala Airlines sedang berulang tahun ke 40. Ada 40 ribu seat gratis dan saya beruntung mendapatkannya sehingga cost perjalanan bisa ditekan sampai 50%.

Acara ini sebenarnya dimulai tanggal 2 Mei 2009, tapi karena saya harus menghadiri pembekalan KKN yang tidak bermutu itu, mau nggak mau tanggal 2 malam saya baru berangkat ke Bali. Keesokan harinya tanggal 3 pagi saya bergegas ke BICC untuk registrasi. Proses registrasinya berlangsung cepat, hanya perlu menyerahkan nomor ID yang tercantum dalam undangan untuk ditukar dengan sebuah map. Dalam map tersebut telah dicantumkan identitas dan foto kita. Map berisikan schedule of events, handbook dan beberapa kupon untuk mendapatkan fasilitas konferensi. Selain itu saya juga menerima sebuah ID Card.

Dengan ID Card digenggaman, saya menuju pintu masuk BICC. Ada beberapa pemeriksaan ketat yang terkesan lebai di sana. Backpack hitam manis saya digeledah habis-habisan lalu discan persis seperti prosedur di bandara. Lolos proses screening barang bawaan, saya lalu menapakkan diri ke pintu masuk. Agak aneh juga (atau emang saya yang ndeso hehehe), ID card yang tanpa barcode tadi ternyata sudah dilengkapi semacam face detection. Tanpa harus menyodorkan ID card, begitu masuk alat pemindai langsung mengeluarkan gambar wajah dan identitas saya..waaah saya ganteng juga ya ternyata..ha..ha..ha
Begitu berada di dalam BICC, culture shock kumat. Gimana nggak? Saya hampir nggak ngeliat manusia sepantaran karena keliatannya saya paling muda. Selain itu, BICC keliatan crowded banget sama bule-bule yang tampangnya intelek abis, beda banget sama bule yang saya liat di Kuta. Sempet ngerasa juga, ini ga seperti acaranya ADB yang asian tapi malah OECD yang anggotanya lebih banyak Eropa.


Tapi shock itu nggak berjalan lama, saya langsung duduk sejenak menenangkan diri untuk membaca handbook. Yeah, it works. Handbook yang diberikan panitia ADB Annual Meeting sangat membantu. Saya bisa menuju tempat-tempat konferensi dan fasilitas yang ada tanpa nyasar di tengah BICC yang luas banget. Dengan handbook tadi saya bisa nyari tempat-tempat yang cozy buat mengisi pergantian sesi. Tempat favorit saya adalah internet center pastinya,,

Dari 5 hari penyelenggaraan, banyak hal yang saya dapat. Ilmu dan wacana baru tentang pembangunan jelas didapat, tapi saya nggak akan bahas disini karena highlightnya bisa dibaca di situs ADB. Soal miliu internasional, ini yang menarik. Saya sempat berkenalan rekan mahasiswa dari Uzbekistan, Australia, Jepang dan China. Mereka mengajak saya berdiskusi banyak soal pembangunan dan sharing tentang kondisi di masing-masing negara. Dari kesempatan tersebut umumnya mereka memandang positif Indonesia dari sisi ekonomi maupun politik. Saya paling tertarik dengan rekan dari Uzbekistan karena negara ini jarang dibahas di dunia internasional. Ia juga sempat membawa saya ke stand negaranya dan memberikan buku panduan investasi dan pariwisata di negara itu. Waah, kapan ya bisa kesana....

Overall acara ini luar biasa, karena dari segi penyelenggaraan hampir tidak ada cacat. Acara-acara pendukung seperti cultural events yang diselenggarakan di kawasan patung Garuda Wisnu Kencana berjalan menarik karena dihadiri oleh artis sekelas Krisdayanti dan Ita Purnamasari. Penampilan Bapak Anggito Abimanyu (mantan petinggi PT TELKOM yang kini kepala Badan Kebijakan Fiskal Depkeu) sebagai pemain flute sungguh tidak disangka-sangka. Even budaya juga ditampilkan saat pembukaan yang dihadiri oleh Presiden SBY dan presiden ADB Haruhiko Kuroda. Acara tersebut mendapat sambutan hangat dari seluruh peserta.



Minggu, 12 April 2009

The Power Of Facebook : Antara The New Public Sphere Dan Pergeseran Sosok Masyarakat


Sejak diluncurkan oleh Mark Zuckerberg pada tahun 2004, facebook menjelma menjadi sebuah situs pertemanan yang fenomenal. Pertumbuhannya luar biasa, hampir di setiap negara situs ini menduduki urutan teratas. Di Asia perlahan tapi pasti facebook menggeser dominasi Friendster. Di dunia arab bahkan, sebuah dunia yang dikenal akrab dengan ‘privacy’ dan tata nilai yang kaku, facebook mulai digandrungi. Kondisi ini tentunya membuat pundi-pundi uang pemiliknya terus bertambah. Di luar itu, ada kapitalisasi kekuatan sosial politik yang menguat berbanding lurus dengan masifnya facebook. Masalahnya adalah munculnya eskternalitas sosial di balik kapitalisasi Facebook yakni pergeseran sosok masyarakat. 

Facebook Sebagai The New Public Sphere 
 Istilah public sphere pertama kali dikemukakan oleh Juergen Habermas. Terminasi public sphere biasanya digunakan dalam kerangka komunikasi politik yang positif. Public sphere digambarkan oleh Habermas sebagai sebuah ruang inklusif dimana masyarakat secara kolektif membuat sebuah opini publik dalam sebuah lingkungan terkait dengan kondisi sosial politik maupun ekonomi. Sayangnya dalam terminasi tersebut Habermas tidak menggambarkan bagaimana seharusnya seorang politisi mampu memanfaatkan public sphere

 Apakah facebook sendiri merupakan public sphere? Jelas, facebook merupakan sebuah ruang publik yang inklusif, semua orang asal melek komputer bisa menggunakannya. Tujuan orang menggunakan facebook juga mulai berkembang. Orang tidak hanya mengenal facebook sebagai tempat narsis-narsisan lagi tapi mulai meliriknya sebagai tempat untuk melemparkan sebuah wacana. Ketika wacana yang dilemparkan ditanggapi oleh pihak lain, mereka merasa eksis di sana hingga seterusnya berkembang tanpa sadar menjadi sebuah opini publik. 

 Dalam situasi seperti ini yang paling diuntungkan adalah dunia marketing khususnya marketing politik. Ada sebuah peluang yang harus dimanfaatkan dalam public sphere ini baik dalam mengarahkan opini maupun memobilisasi dukungan. Pionirnya yang melegenda adalah Presiden AS Barack Obama. Grupnya yang bertajuk ‘One Million Strong for Barack’ mampu mengumpulkan 300.000 lebih pendukung dalam kurun waktu kurang dari tiga minggu saja. Tapi itu wajar karena 90% masyarakat AS telah terakses internet dan sebagian besar memiliki account Facebook. Di Indonesia lebih fenomenal lagi, sebuah page bernama ‘Say No To Megawati’ mampu meraup hampir seratus ribu pendukung hanya dalam 3 hari saja. Padahal di negeri ini hanya ada 15 juta orang yang terakses internet dengan jumlah account facebook 2 juta saja. Entah berpengaruh secara langsung atau tidak, yang jelas keesokan harinya perolehan suara PDIP turun hingga 5 persen dalam pemilu legislatif. Untungnya kedua negara ini tidak mengenal strategi propaganda teknologi informasi seperti di China. China membayar sejumlah orang untuk mengcounter opini miring tentang pemerintah dengan upah 50 sen RMB per posting. Mereka biasa disebut dengan The Fifty Cents, mirip dengan nama penyanyi hip-hop di AS. 

Facebook dan Pergeseran Sosok Masyarakat
 Facebook sebagai sebuah jejaring sosial diakui memang cukup ampuh untuk mengikat modal sosial. Facebook banyak membantu orang untuk berhubungan dengan kolega lamanya, berinteraksi secara live dengan orang yang terpisah jarak dan hubungan-hubungan tersebut sering kali menghasilkan sebuah common reciprocity atau keuntungan bersama. Namun di balik kekuatannya ini facebook juga menyimpan potensi bagi terbentuknya sosok masyarakat baru yang berbeda dengan sebelumnya.

 Sosok masyarakat baru ciptaan facebook terutama pada wajahnya yang menggeserkan arti kata ‘teman’. Sikap ini dikemudian hari bisa menimbulkan beberapa resiko terutama bagi anak-anak. Tanyalah kepada teman anda berapa rata-rata teman yang dimilikinya dalam facebook. Mereka pasti menjawab dengan angka 200 hingga 500 orang. Namun teman disini bersifat ‘verbal’ artinya hanya teman dalam ‘sebutan’ setelah itu ‘they are completely strangers’ atau mereka adalah orang asing. Sebuah tulisan dalam harian Kompas Minggu pernah menyebutnya sebagai ‘the illusion of intimacy’. Kondisi seperti ini tidak memungkinkan untuk mewacanakan esensi pertemanan yang sesungguhnya seperti trust, love, support dan sharing. Juga ada seni dalam proses ‘friendship building’, sayangnya facebook belum bisa mewadahinya. Tidak hanya dalam substansi pertemanan,tapi dalam prakteknya bukan tidak mungkin fenomena ini akan mengakibatkan orang untuk menghindari berkomunikasi secara ‘face to face’. Alasan klasik yang biasa dikemukakan adalah ‘because its easier’. Permasalahannya adalah adanya gap antara ‘real life’ dengan ‘dunia maya’. Kebiasaan ini akan mengancam skill seseorang untuk berkomunikasi secara verbal. 

 Sosok yang terakhir adalah memudarnya ‘sense of privacy’ dalam masyarakat. Sudah barang tentu apa yang diposting dalam situs ini mudah sekali dibaca oleh orang lain kecuali kita benar-benar mengatur settingnya dengan cermat. Namun kurangnya rasa tanggungjawab sosial pengguna facebook terkait privacy masih nyata. Mereka mungkin sangat ketat menjaga privacy masing-masing namun tanpa disadari mereka sangat mungkin melanggar privacy orang lain. Hal ini bisa dibuktikan dengan maraknya posting yang berbau bullying dan hal-hal yang bertujuan untuk membuat malu orang lain.  


Kamis, 09 April 2009

Im Officially Golput


Kecewa, itu kata utama yang ada dalam benak saya hari ini. Gimana enggak, jauh-jauh saya pulang dari Jogja ke Jakarta buat Pemilu yang ternyata cuma menyatakan saya nggak berhak ikut. Padahal dapetin tiket ke Jakarta di masa pemilu itu nggak mudah, hampir semua angkutan load factornya full. Saya pun nekat pesan tiket pesawat jauh-jauh hari, kalau ga salah sekitar sebulan lalu. Bahkan khusus buat pemilu ini juga saya udah prepare punya pilihan, padahal biasanya saya baru mikir di bilik suara :D

Sia-sia deh semuanya, waktu sadar ternyata nama saya dan keluarga (ada 4 orang) ga terdaftar dalam DPT. Awalnya nggak percaya juga sampai saya cek ke beberapa TPS di sekitar rumah. Anehnya waktu di pilkada DKI tahun lalu kami terdaftar, bahkan keluarga kami menempati nomor urut 1-4 tapi pas pemilu 2009 nama kami sama sekali nggak ada. Tambah terheran-heran lagi ketika tetangga kami, sepasang suami istri yang udah meninggal 10 tahun lalu dan rumahnya sudah kami beli malah terdaftar !!! Yeah, saya tidak menginginkan golput tapi officially harus golput...

Di balik samua kekecewaan itu, saya masih terhibur. Toh walaupun saya tidak dapat berpartisipasi , partai yang akan saya pilih masih unggul di berbagai quick count. Tapi saya juga masih memendam kekhawatiran. Kondisi carut-marutnya DPT seperti ini bukan tidak mungkin akan membuka peluang bagi parpol yang berkurang konstituennya untuk mencari-cari alasan atas klaim pemilu yang tidak jujur dan adil. Tugas berat untuk Mahkamah Konstitusi. 

Minggu, 29 Maret 2009

Petaka Situ Gintung : Sedikit Faktor Alam, Dominan Faktor Kebijakan



Satu-satunya surga hijau di wilayah Ciputat dalam sekejap berubah menjadi neraka. Bau anyir dan lumpur teronggok di mana-mana. Tak pantas memang mencari siapa yang salah dalam tragedi Situ Gintung dikala ratusan orang bersimpuh menangisi kepergian sanak saudaranya dan cemas akan masa depan mereka. Namun bencana ini harus dijadikan pelajaran. Ada puluhan situ serupa di Jabodetabek yang tidak boleh menjadi Situ Gintung berikutnya. Situ di Jabodetabek adalah malaikat di kala musim penghujan datang, mereka menyelamatkan jutaan warga Jabodetabek dari kebanjiran. Di kala musim kemarau menyimpan cadangan air yang tidak sedikit bahkan menjadi tempat wisata. Faktanya, puluhan situ tersebut tidak berbeda nasibnya dengan Situ Gintung. Mereka makin terpinggirkan dari tahun ke tahun, makin menyempit termakan keserakahan pembangunan.


Pasca bencana, pemerintah berkilah bahwa faktor alam adalah sebab utama tragedi ini. Dirjen Sumber Daya Air Departemen PU Iwan Nursyirwan mengatakan bahwa jebolnya saluran pelimpah (spillway) Situ Gintung di Cirendeu, Ciputat akibat dari volume air yang terlalu besar akibat hujan deras yang mengguyur daerah tersebut sejak sore hari hingga malam. Iwan mengatakan bahwa tidak ada faktor human error maupun kerusakan bendungan dalam musibah ini, tetapi lebih kepada volume air yang datang melebihi kapasitas rencana daya tampung Situ Gintung. Benarkah demikian ? Mari kita runut kebelakang, dengan sedikit melakukan evaluasi kebijakan pemerintah terhadap situ tersebut, sedikit banyak black box tragedi ini bisa kita raba.


Pertama, adalah naif bila mengatakan petaka ini adalah natural disaster atau bencana yang diakibatkan oleh faktor alam. Logika untuk melihat bencana ini tidak bisa disamakan dengan kondisi gempa atau tsunami di Aceh yang sulit diprediksi. Pertanda akan datangnya bencana ini bisa diukur dengan pengecekan secara berkala lewat deteksi curah hujan dan kapasitas limpahan air. Ada faktor kelalaian seperti salah perhitungan di dalamnya. Pendekatan untuk memahaminya mirip seperti maintenance pesawat terbang, semakin tinggi kapasitas maintenancenya semakin rendah kemungkinan kecelakaan yang terjadi. Dengan pendekatan seperti ini, maskapai eropa telah mendekati zero accident. Hanya satu dari sejuta penerbangan yang mengalami musibah. Bandingkan dengan maskapai di Indonesia yang maintenancenya buruk, Indonesia mencatat tiga dari sejuta penerbangan mengalami kecelakaan.


Kedua, seperti banyak diungkapkan media massa. Masyarakat sejak dua tahun lalu mengeluh tentang bahaya kerusakan Situ Gintung, sayangnya menurut mereka pemerintah belum bertindak cepat untuk menanggulanginya. Mengapa kebijakan publik bisa demikian kesiangan ? ada permasalahan kewenangan disini, terjadi saling lempar tanggungjawab antara Pemerintah Banten sebagai otoritas di hulu, pemerintah DKI di hilir dan pusat (Balai Besar Sungai Ciliwung Cisadane/BKSCC). Paradigma pengelolaan sumber daya alam yang borderless ternyata hanya tercatat di buku-buku tebal bangku kuliah. Pemerintah Banten merasa hanya bertanggungjawab untuk mengurusi masalah sosial kemasyarakatan sekitar situ, Pemerintah DKI lepas tangan karena merasa itu bukan wilayahnya dan baru terkuak bahwa BKSCC lah yang selama ini memegang kendali atas situ tersebut. Maka jelas saja, aliran informasi untuk tindak lanjut melalui kebijakan menjadi tersendat. Masyarakat awam jelas tidak tahu pembagian kewenangan birokrasi ini sehingga hanya berharap pada pemerintah Banten yang justru tidak punya kewenangan untuk mengatasinya. Mungkinkah ada koordinasi diantara mereka ? seharusnya ada, dan bilapun ada seharusnya kejadian ini bisa diantisipasi sebelumnya.


Ketiga, melihat sekilas kondisi tata kota dan demografi sekitar Situ Gintung, mudah ditebak kalau ada kesalahan pengelolaan di sana. Kesalahan terutama adalah membiarkan masyarakat untuk rentan terhadap bencana (vulnerability factor). Situ Gintung yang awalnya seluas 31 hektar di awal pembangunannya kini tersisa hanya 20 hektar saja. Mengapa demikian ? konon derap pembangunan wilayah pinggiran Jakarta yang makin marak menjadi penyebabnya. Dibangunnya sejumlah universitas disekitar situ menjadi salah satu daya tariknya. Kondisi ini membuat harga tanah merangkak naik dengan cepat bahkan sejajar dengan harga tanah di Jakarta. Akibatnya wilayah ini menjadi menarik secara ekonomis, berdirilah berbagai rumah bahkan yang berkategori mewah. Perkembangan ini menyempitkan luas situ, kapasitas limpahan air menjadi terbatas. Permasalahannya adalah pemerintah menggunakan asumsi curah hujan yang sama dengan tahun 1910-1960 padahal cuaca telah berubah dengan ekstrim.


Belum lagi masyarakat yang tinggal dibawah tanggul. Posisi mereka sangat rawan bencana, ketinggian pemukiman tersebut 15 meter di bawah tanggul. Bagaimana mungkin pemerintah bisa membiarkan hal ini terjadi dengan percaya pada kekuatan tanggul yang dibangun pada masa kolonial ? Apakah Izin Mendirikan Bangunan (IMB) telah mempertimbangkan kondisi rawan bencana ?


Tampaknya, faktor alam memang mempengaruhi. Namun bukankah manusia punya pengaruh terhadap alam? Kita tidak bisa melihat alam sebagai sesuatu yang konstan, yang bisa berubah-ubah semaunya tanpa kritis melihat sebabnya. Tidak hanya dalam kasus Situ Gintung. Secara makro, kebijakan publik sebagai produk pemikiran dan perbuatan manusia punya andil besar dalam menentukan bagaimana bumi ini akan bertahan bahkan berakhir sekalipun.

Minggu, 15 Maret 2009

PESONA SOFT POWER CHINA DI ASIA TENGGARA

Wacana penggunaan soft power dalam politik luar negeri belakangan kembali mengemuka terutama setelah reorientasi strategi politik luar negeri AS di bawah pemerintahan Obama. Era pemerintahan Bush yang begitu hawkish dan terkesan mendikte dunia kini telah usai. Pemerintahan Obama dengan Hillary Clinton kini mengubahnya dengan soft power yang menurut mereka adalah smart diplomacy. Namun ternyata tidak hanya AS yang melakukannya. China yang terkenal otoriter dan kaku di dalam negeri justru jauh lebih dulu mempraktekkannya ketimbang AS.
Selama beberapa dekade, China sempat memainkan hard power dalam membina politik luar negerinya dengan negara-negara di Asia Tenggara. Bisa kita lihat bagaimana China membantu pergerakan komunis di wilayah ini dengan bantuan persenjataan sebagaimana di Vietnam, Kamboja bahkan Indonesia. Dalam perkembangannya pasca perang dingin, ada shifiting strategi diplomasi China dengan menggunakan soft power terutama di Asia Tenggara. Soft Power sendiri menurut Joseph Nye berarti kemampuan untuk mempengaruhi dengan menggunakan budaya, partisipasi dalam organisasi internasional, diplomasi dan hubungan ekonomi. Joshua Kurlantzick menggunakan term yang lebih luas lagi yakni mencakup bantuan (aid) dan investasi.

Pesona Soft Power China
Berkembangnya pengaruh China di Asia Tenggara disebabkan oleh peluang yang diciptakan oleh kekakuan Amerika dalam diplomasinya. AS begitu lamban dalam merespon krisis ekonomi Asia tahun 1997 dan usaha counter attack tragedi 9/11 yang dianggap berlebihan. China akhirnya mampu mengambil pengaruh AS di Asia Tenggara dengan menggunakan soft power yang kebanyakan melalui bantuan luar negeri dan investasi. Dibandingkan dengan AS yang menerapkan banyak syarat untuk bantuannya, China begitu longgar dalam tawar-menawar bantuan. China tidak peduli dengan urusan dalam negeri negara yang diberikan bantuan. Ini yang disebut oleh China sebagai strategi win-win relations. Beijing bersedia mendengar keinginan negara-negara lain. Hal ini tentunya lebih disukai negara-negara Asia Tenggara yang banyak bermasalah dalam demokrasi dan HAM.
Eksistensi soft power China di Asia Tenggara begitu nyata. Thailand yang jelas-jelas sekutu AS malah berbalik ke China. Buktinya negara pertama yang dikunjungi PM Thaksin setelah pengangkatannya adalah China. Bahkan sebuah polling di Thailand menyebutkan, 70 persen responden mengaku China adalah kekuatan luar yang paling berpengaruh di Thailand. Di Filipina, Kajian Henry Yap of National Defense University menyebutkan bahwa bantuan China ke negeri ini tiga kali lipat jumlahnya dibandingkan bantuan AS. Di Indonesia menurut Georgetown Southeast Asia Survey pada tahun 2004, jumlah pelajar yang mendapatkan visa belajar di China jumlahnya dua kali lipat dibandingkan mereka yang belajar di AS. Pada tahun 2008, China memang membuka 120.000 kursi perguruan tingginya bagi mahasiswa asing, bandingkan dengan 20 tahun lalu yang hanya menyediakan 2.000 kursi saja. Kajian Malaysian Bussinesspeople lebih menarik lagi. Di Malaysia kendatipun banyak pengusaha lokal merasa terancam dengan kehadiran barang-barang China, mereka melihat China dengan citra positif.
Secara global implikasi soft power China ini tidak main-main. Horizon Group mencatat China adalah negara paling terkemuka di dunia dengan skor 40 persen.

Ada Apa di Balik Soft Power China ?
Secara normatif, goal dari penerapan strategi soft power China adalah terciptanya perdamaian internasional. Perdamaian berarti memberikan kesempatan bagi perekonomian China untuk terus tumbuh dan memastikan selalu ada tempat bagi China untuk memasarkan barang-barang mereka. China juga ingin mengurangi pengaruh Jepang dan Taiwan di Asia Tenggara, memotong jaringan bisnis Taiwan demi menegakkan One China Policy. Tujuan akhir dari strategi ini adalah tentunya, mengurangi pengaruh AS di Asia Tenggara hingga mereka beralih ke Beijing. Mengimplementasikan sebuah Monroe Doctrine baru, menciptakan sebuah orientasi bahwa China merupakan sebuah solusi baru bagi masalah regional.

Bahaya Pesona Soft Power China
Dalam beberapa kasus, penerapan soft power China bisa membahayakan terutama bagi cita-cita demokratisasi, gerakan antikorupsi, pelestarian lingkungan dan good governance negara-negara di Asia Tenggara. Selain mengekspor bantuannya, China juga mentransfer secara bersamaan pengaruh-pengaruh buruk bagi pelaksanaan pemerintahan yang baik.
Di Burma selain mendukung junta militer, China menyokong perusahaan yang melakukan deforestasi besar-besaran. China juga membangun sebuah dam besar yang mengancam jutaan penduduk Indocina yang bergantung pada aliran sungai Mekong. Di Filipina ketika banyak lembaga internasional menyuarakan banyaknya korupsi dalam proyek-proyek be sar di negeri tersebut, China malah menawarkan bantuan US$ 400 juta untuk pembangunan jalur kereta api tanpa transparansi dan analisis dampak lingkungan yang matang. Di Indonesia juga terkuak bagaimana China bisa mendapatkan proyek gas Tangguh jauh di bawah harga pasaran internasional. Diduga ada suap dalam proses bidding proyek tersebut.

Review dari Jurnal :
Joshua Kurlantzick. China’s Charm, Implications of Chinese Soft Power. Carnegie Endowment Policy Brief, June 2006.