Minggu, 12 April 2009

The Power Of Facebook : Antara The New Public Sphere Dan Pergeseran Sosok Masyarakat


Sejak diluncurkan oleh Mark Zuckerberg pada tahun 2004, facebook menjelma menjadi sebuah situs pertemanan yang fenomenal. Pertumbuhannya luar biasa, hampir di setiap negara situs ini menduduki urutan teratas. Di Asia perlahan tapi pasti facebook menggeser dominasi Friendster. Di dunia arab bahkan, sebuah dunia yang dikenal akrab dengan ‘privacy’ dan tata nilai yang kaku, facebook mulai digandrungi. Kondisi ini tentunya membuat pundi-pundi uang pemiliknya terus bertambah. Di luar itu, ada kapitalisasi kekuatan sosial politik yang menguat berbanding lurus dengan masifnya facebook. Masalahnya adalah munculnya eskternalitas sosial di balik kapitalisasi Facebook yakni pergeseran sosok masyarakat. 

Facebook Sebagai The New Public Sphere 
 Istilah public sphere pertama kali dikemukakan oleh Juergen Habermas. Terminasi public sphere biasanya digunakan dalam kerangka komunikasi politik yang positif. Public sphere digambarkan oleh Habermas sebagai sebuah ruang inklusif dimana masyarakat secara kolektif membuat sebuah opini publik dalam sebuah lingkungan terkait dengan kondisi sosial politik maupun ekonomi. Sayangnya dalam terminasi tersebut Habermas tidak menggambarkan bagaimana seharusnya seorang politisi mampu memanfaatkan public sphere

 Apakah facebook sendiri merupakan public sphere? Jelas, facebook merupakan sebuah ruang publik yang inklusif, semua orang asal melek komputer bisa menggunakannya. Tujuan orang menggunakan facebook juga mulai berkembang. Orang tidak hanya mengenal facebook sebagai tempat narsis-narsisan lagi tapi mulai meliriknya sebagai tempat untuk melemparkan sebuah wacana. Ketika wacana yang dilemparkan ditanggapi oleh pihak lain, mereka merasa eksis di sana hingga seterusnya berkembang tanpa sadar menjadi sebuah opini publik. 

 Dalam situasi seperti ini yang paling diuntungkan adalah dunia marketing khususnya marketing politik. Ada sebuah peluang yang harus dimanfaatkan dalam public sphere ini baik dalam mengarahkan opini maupun memobilisasi dukungan. Pionirnya yang melegenda adalah Presiden AS Barack Obama. Grupnya yang bertajuk ‘One Million Strong for Barack’ mampu mengumpulkan 300.000 lebih pendukung dalam kurun waktu kurang dari tiga minggu saja. Tapi itu wajar karena 90% masyarakat AS telah terakses internet dan sebagian besar memiliki account Facebook. Di Indonesia lebih fenomenal lagi, sebuah page bernama ‘Say No To Megawati’ mampu meraup hampir seratus ribu pendukung hanya dalam 3 hari saja. Padahal di negeri ini hanya ada 15 juta orang yang terakses internet dengan jumlah account facebook 2 juta saja. Entah berpengaruh secara langsung atau tidak, yang jelas keesokan harinya perolehan suara PDIP turun hingga 5 persen dalam pemilu legislatif. Untungnya kedua negara ini tidak mengenal strategi propaganda teknologi informasi seperti di China. China membayar sejumlah orang untuk mengcounter opini miring tentang pemerintah dengan upah 50 sen RMB per posting. Mereka biasa disebut dengan The Fifty Cents, mirip dengan nama penyanyi hip-hop di AS. 

Facebook dan Pergeseran Sosok Masyarakat
 Facebook sebagai sebuah jejaring sosial diakui memang cukup ampuh untuk mengikat modal sosial. Facebook banyak membantu orang untuk berhubungan dengan kolega lamanya, berinteraksi secara live dengan orang yang terpisah jarak dan hubungan-hubungan tersebut sering kali menghasilkan sebuah common reciprocity atau keuntungan bersama. Namun di balik kekuatannya ini facebook juga menyimpan potensi bagi terbentuknya sosok masyarakat baru yang berbeda dengan sebelumnya.

 Sosok masyarakat baru ciptaan facebook terutama pada wajahnya yang menggeserkan arti kata ‘teman’. Sikap ini dikemudian hari bisa menimbulkan beberapa resiko terutama bagi anak-anak. Tanyalah kepada teman anda berapa rata-rata teman yang dimilikinya dalam facebook. Mereka pasti menjawab dengan angka 200 hingga 500 orang. Namun teman disini bersifat ‘verbal’ artinya hanya teman dalam ‘sebutan’ setelah itu ‘they are completely strangers’ atau mereka adalah orang asing. Sebuah tulisan dalam harian Kompas Minggu pernah menyebutnya sebagai ‘the illusion of intimacy’. Kondisi seperti ini tidak memungkinkan untuk mewacanakan esensi pertemanan yang sesungguhnya seperti trust, love, support dan sharing. Juga ada seni dalam proses ‘friendship building’, sayangnya facebook belum bisa mewadahinya. Tidak hanya dalam substansi pertemanan,tapi dalam prakteknya bukan tidak mungkin fenomena ini akan mengakibatkan orang untuk menghindari berkomunikasi secara ‘face to face’. Alasan klasik yang biasa dikemukakan adalah ‘because its easier’. Permasalahannya adalah adanya gap antara ‘real life’ dengan ‘dunia maya’. Kebiasaan ini akan mengancam skill seseorang untuk berkomunikasi secara verbal. 

 Sosok yang terakhir adalah memudarnya ‘sense of privacy’ dalam masyarakat. Sudah barang tentu apa yang diposting dalam situs ini mudah sekali dibaca oleh orang lain kecuali kita benar-benar mengatur settingnya dengan cermat. Namun kurangnya rasa tanggungjawab sosial pengguna facebook terkait privacy masih nyata. Mereka mungkin sangat ketat menjaga privacy masing-masing namun tanpa disadari mereka sangat mungkin melanggar privacy orang lain. Hal ini bisa dibuktikan dengan maraknya posting yang berbau bullying dan hal-hal yang bertujuan untuk membuat malu orang lain.  


Kamis, 09 April 2009

Im Officially Golput


Kecewa, itu kata utama yang ada dalam benak saya hari ini. Gimana enggak, jauh-jauh saya pulang dari Jogja ke Jakarta buat Pemilu yang ternyata cuma menyatakan saya nggak berhak ikut. Padahal dapetin tiket ke Jakarta di masa pemilu itu nggak mudah, hampir semua angkutan load factornya full. Saya pun nekat pesan tiket pesawat jauh-jauh hari, kalau ga salah sekitar sebulan lalu. Bahkan khusus buat pemilu ini juga saya udah prepare punya pilihan, padahal biasanya saya baru mikir di bilik suara :D

Sia-sia deh semuanya, waktu sadar ternyata nama saya dan keluarga (ada 4 orang) ga terdaftar dalam DPT. Awalnya nggak percaya juga sampai saya cek ke beberapa TPS di sekitar rumah. Anehnya waktu di pilkada DKI tahun lalu kami terdaftar, bahkan keluarga kami menempati nomor urut 1-4 tapi pas pemilu 2009 nama kami sama sekali nggak ada. Tambah terheran-heran lagi ketika tetangga kami, sepasang suami istri yang udah meninggal 10 tahun lalu dan rumahnya sudah kami beli malah terdaftar !!! Yeah, saya tidak menginginkan golput tapi officially harus golput...

Di balik samua kekecewaan itu, saya masih terhibur. Toh walaupun saya tidak dapat berpartisipasi , partai yang akan saya pilih masih unggul di berbagai quick count. Tapi saya juga masih memendam kekhawatiran. Kondisi carut-marutnya DPT seperti ini bukan tidak mungkin akan membuka peluang bagi parpol yang berkurang konstituennya untuk mencari-cari alasan atas klaim pemilu yang tidak jujur dan adil. Tugas berat untuk Mahkamah Konstitusi. 

Minggu, 29 Maret 2009

Petaka Situ Gintung : Sedikit Faktor Alam, Dominan Faktor Kebijakan



Satu-satunya surga hijau di wilayah Ciputat dalam sekejap berubah menjadi neraka. Bau anyir dan lumpur teronggok di mana-mana. Tak pantas memang mencari siapa yang salah dalam tragedi Situ Gintung dikala ratusan orang bersimpuh menangisi kepergian sanak saudaranya dan cemas akan masa depan mereka. Namun bencana ini harus dijadikan pelajaran. Ada puluhan situ serupa di Jabodetabek yang tidak boleh menjadi Situ Gintung berikutnya. Situ di Jabodetabek adalah malaikat di kala musim penghujan datang, mereka menyelamatkan jutaan warga Jabodetabek dari kebanjiran. Di kala musim kemarau menyimpan cadangan air yang tidak sedikit bahkan menjadi tempat wisata. Faktanya, puluhan situ tersebut tidak berbeda nasibnya dengan Situ Gintung. Mereka makin terpinggirkan dari tahun ke tahun, makin menyempit termakan keserakahan pembangunan.


Pasca bencana, pemerintah berkilah bahwa faktor alam adalah sebab utama tragedi ini. Dirjen Sumber Daya Air Departemen PU Iwan Nursyirwan mengatakan bahwa jebolnya saluran pelimpah (spillway) Situ Gintung di Cirendeu, Ciputat akibat dari volume air yang terlalu besar akibat hujan deras yang mengguyur daerah tersebut sejak sore hari hingga malam. Iwan mengatakan bahwa tidak ada faktor human error maupun kerusakan bendungan dalam musibah ini, tetapi lebih kepada volume air yang datang melebihi kapasitas rencana daya tampung Situ Gintung. Benarkah demikian ? Mari kita runut kebelakang, dengan sedikit melakukan evaluasi kebijakan pemerintah terhadap situ tersebut, sedikit banyak black box tragedi ini bisa kita raba.


Pertama, adalah naif bila mengatakan petaka ini adalah natural disaster atau bencana yang diakibatkan oleh faktor alam. Logika untuk melihat bencana ini tidak bisa disamakan dengan kondisi gempa atau tsunami di Aceh yang sulit diprediksi. Pertanda akan datangnya bencana ini bisa diukur dengan pengecekan secara berkala lewat deteksi curah hujan dan kapasitas limpahan air. Ada faktor kelalaian seperti salah perhitungan di dalamnya. Pendekatan untuk memahaminya mirip seperti maintenance pesawat terbang, semakin tinggi kapasitas maintenancenya semakin rendah kemungkinan kecelakaan yang terjadi. Dengan pendekatan seperti ini, maskapai eropa telah mendekati zero accident. Hanya satu dari sejuta penerbangan yang mengalami musibah. Bandingkan dengan maskapai di Indonesia yang maintenancenya buruk, Indonesia mencatat tiga dari sejuta penerbangan mengalami kecelakaan.


Kedua, seperti banyak diungkapkan media massa. Masyarakat sejak dua tahun lalu mengeluh tentang bahaya kerusakan Situ Gintung, sayangnya menurut mereka pemerintah belum bertindak cepat untuk menanggulanginya. Mengapa kebijakan publik bisa demikian kesiangan ? ada permasalahan kewenangan disini, terjadi saling lempar tanggungjawab antara Pemerintah Banten sebagai otoritas di hulu, pemerintah DKI di hilir dan pusat (Balai Besar Sungai Ciliwung Cisadane/BKSCC). Paradigma pengelolaan sumber daya alam yang borderless ternyata hanya tercatat di buku-buku tebal bangku kuliah. Pemerintah Banten merasa hanya bertanggungjawab untuk mengurusi masalah sosial kemasyarakatan sekitar situ, Pemerintah DKI lepas tangan karena merasa itu bukan wilayahnya dan baru terkuak bahwa BKSCC lah yang selama ini memegang kendali atas situ tersebut. Maka jelas saja, aliran informasi untuk tindak lanjut melalui kebijakan menjadi tersendat. Masyarakat awam jelas tidak tahu pembagian kewenangan birokrasi ini sehingga hanya berharap pada pemerintah Banten yang justru tidak punya kewenangan untuk mengatasinya. Mungkinkah ada koordinasi diantara mereka ? seharusnya ada, dan bilapun ada seharusnya kejadian ini bisa diantisipasi sebelumnya.


Ketiga, melihat sekilas kondisi tata kota dan demografi sekitar Situ Gintung, mudah ditebak kalau ada kesalahan pengelolaan di sana. Kesalahan terutama adalah membiarkan masyarakat untuk rentan terhadap bencana (vulnerability factor). Situ Gintung yang awalnya seluas 31 hektar di awal pembangunannya kini tersisa hanya 20 hektar saja. Mengapa demikian ? konon derap pembangunan wilayah pinggiran Jakarta yang makin marak menjadi penyebabnya. Dibangunnya sejumlah universitas disekitar situ menjadi salah satu daya tariknya. Kondisi ini membuat harga tanah merangkak naik dengan cepat bahkan sejajar dengan harga tanah di Jakarta. Akibatnya wilayah ini menjadi menarik secara ekonomis, berdirilah berbagai rumah bahkan yang berkategori mewah. Perkembangan ini menyempitkan luas situ, kapasitas limpahan air menjadi terbatas. Permasalahannya adalah pemerintah menggunakan asumsi curah hujan yang sama dengan tahun 1910-1960 padahal cuaca telah berubah dengan ekstrim.


Belum lagi masyarakat yang tinggal dibawah tanggul. Posisi mereka sangat rawan bencana, ketinggian pemukiman tersebut 15 meter di bawah tanggul. Bagaimana mungkin pemerintah bisa membiarkan hal ini terjadi dengan percaya pada kekuatan tanggul yang dibangun pada masa kolonial ? Apakah Izin Mendirikan Bangunan (IMB) telah mempertimbangkan kondisi rawan bencana ?


Tampaknya, faktor alam memang mempengaruhi. Namun bukankah manusia punya pengaruh terhadap alam? Kita tidak bisa melihat alam sebagai sesuatu yang konstan, yang bisa berubah-ubah semaunya tanpa kritis melihat sebabnya. Tidak hanya dalam kasus Situ Gintung. Secara makro, kebijakan publik sebagai produk pemikiran dan perbuatan manusia punya andil besar dalam menentukan bagaimana bumi ini akan bertahan bahkan berakhir sekalipun.

Minggu, 15 Maret 2009

PESONA SOFT POWER CHINA DI ASIA TENGGARA

Wacana penggunaan soft power dalam politik luar negeri belakangan kembali mengemuka terutama setelah reorientasi strategi politik luar negeri AS di bawah pemerintahan Obama. Era pemerintahan Bush yang begitu hawkish dan terkesan mendikte dunia kini telah usai. Pemerintahan Obama dengan Hillary Clinton kini mengubahnya dengan soft power yang menurut mereka adalah smart diplomacy. Namun ternyata tidak hanya AS yang melakukannya. China yang terkenal otoriter dan kaku di dalam negeri justru jauh lebih dulu mempraktekkannya ketimbang AS.
Selama beberapa dekade, China sempat memainkan hard power dalam membina politik luar negerinya dengan negara-negara di Asia Tenggara. Bisa kita lihat bagaimana China membantu pergerakan komunis di wilayah ini dengan bantuan persenjataan sebagaimana di Vietnam, Kamboja bahkan Indonesia. Dalam perkembangannya pasca perang dingin, ada shifiting strategi diplomasi China dengan menggunakan soft power terutama di Asia Tenggara. Soft Power sendiri menurut Joseph Nye berarti kemampuan untuk mempengaruhi dengan menggunakan budaya, partisipasi dalam organisasi internasional, diplomasi dan hubungan ekonomi. Joshua Kurlantzick menggunakan term yang lebih luas lagi yakni mencakup bantuan (aid) dan investasi.

Pesona Soft Power China
Berkembangnya pengaruh China di Asia Tenggara disebabkan oleh peluang yang diciptakan oleh kekakuan Amerika dalam diplomasinya. AS begitu lamban dalam merespon krisis ekonomi Asia tahun 1997 dan usaha counter attack tragedi 9/11 yang dianggap berlebihan. China akhirnya mampu mengambil pengaruh AS di Asia Tenggara dengan menggunakan soft power yang kebanyakan melalui bantuan luar negeri dan investasi. Dibandingkan dengan AS yang menerapkan banyak syarat untuk bantuannya, China begitu longgar dalam tawar-menawar bantuan. China tidak peduli dengan urusan dalam negeri negara yang diberikan bantuan. Ini yang disebut oleh China sebagai strategi win-win relations. Beijing bersedia mendengar keinginan negara-negara lain. Hal ini tentunya lebih disukai negara-negara Asia Tenggara yang banyak bermasalah dalam demokrasi dan HAM.
Eksistensi soft power China di Asia Tenggara begitu nyata. Thailand yang jelas-jelas sekutu AS malah berbalik ke China. Buktinya negara pertama yang dikunjungi PM Thaksin setelah pengangkatannya adalah China. Bahkan sebuah polling di Thailand menyebutkan, 70 persen responden mengaku China adalah kekuatan luar yang paling berpengaruh di Thailand. Di Filipina, Kajian Henry Yap of National Defense University menyebutkan bahwa bantuan China ke negeri ini tiga kali lipat jumlahnya dibandingkan bantuan AS. Di Indonesia menurut Georgetown Southeast Asia Survey pada tahun 2004, jumlah pelajar yang mendapatkan visa belajar di China jumlahnya dua kali lipat dibandingkan mereka yang belajar di AS. Pada tahun 2008, China memang membuka 120.000 kursi perguruan tingginya bagi mahasiswa asing, bandingkan dengan 20 tahun lalu yang hanya menyediakan 2.000 kursi saja. Kajian Malaysian Bussinesspeople lebih menarik lagi. Di Malaysia kendatipun banyak pengusaha lokal merasa terancam dengan kehadiran barang-barang China, mereka melihat China dengan citra positif.
Secara global implikasi soft power China ini tidak main-main. Horizon Group mencatat China adalah negara paling terkemuka di dunia dengan skor 40 persen.

Ada Apa di Balik Soft Power China ?
Secara normatif, goal dari penerapan strategi soft power China adalah terciptanya perdamaian internasional. Perdamaian berarti memberikan kesempatan bagi perekonomian China untuk terus tumbuh dan memastikan selalu ada tempat bagi China untuk memasarkan barang-barang mereka. China juga ingin mengurangi pengaruh Jepang dan Taiwan di Asia Tenggara, memotong jaringan bisnis Taiwan demi menegakkan One China Policy. Tujuan akhir dari strategi ini adalah tentunya, mengurangi pengaruh AS di Asia Tenggara hingga mereka beralih ke Beijing. Mengimplementasikan sebuah Monroe Doctrine baru, menciptakan sebuah orientasi bahwa China merupakan sebuah solusi baru bagi masalah regional.

Bahaya Pesona Soft Power China
Dalam beberapa kasus, penerapan soft power China bisa membahayakan terutama bagi cita-cita demokratisasi, gerakan antikorupsi, pelestarian lingkungan dan good governance negara-negara di Asia Tenggara. Selain mengekspor bantuannya, China juga mentransfer secara bersamaan pengaruh-pengaruh buruk bagi pelaksanaan pemerintahan yang baik.
Di Burma selain mendukung junta militer, China menyokong perusahaan yang melakukan deforestasi besar-besaran. China juga membangun sebuah dam besar yang mengancam jutaan penduduk Indocina yang bergantung pada aliran sungai Mekong. Di Filipina ketika banyak lembaga internasional menyuarakan banyaknya korupsi dalam proyek-proyek be sar di negeri tersebut, China malah menawarkan bantuan US$ 400 juta untuk pembangunan jalur kereta api tanpa transparansi dan analisis dampak lingkungan yang matang. Di Indonesia juga terkuak bagaimana China bisa mendapatkan proyek gas Tangguh jauh di bawah harga pasaran internasional. Diduga ada suap dalam proses bidding proyek tersebut.

Review dari Jurnal :
Joshua Kurlantzick. China’s Charm, Implications of Chinese Soft Power. Carnegie Endowment Policy Brief, June 2006.

Kamis, 29 Januari 2009

Jeruk Itu Dari Sektor 22 Gelora Bung Karno

jam 9 pagi, habis nyusurin jalanan jakarta yang isinya Raikkonen dan Rossi semua, kami sampai juga di pintu JHCC Gelora Bung Karno. Tujuannya cuma satu, dapetin tiket pertandingan sepakbola kualifikasi Piala Asia 2011 antara timnas 'merah putih' vs 'the socceroos' Australia. Menurut pengalaman yang lalu-lalu, khususnya waktu Piala Asia di Jakarta, berburu tiket sepakbola ibarat orang mau mudik. Kudu dengan perjuangan tersendiri bahkan kalo perlu nginep di stadion. Tapi hari itu beda banget, kita kecele. Loket dibuka jam 11. Oh God...2 jam ngapain nih?

beruntung di Istora lagi ada Kompas Gramedia Fair, jadi ada pelarian buat ngisi waktu 2 jam. Puas keliling, kita ke ticket box. Kaget setengah mati, penjual tiket yang biasanya pakai seragam atau setidaknya name tag, hari ini nggak beda sama calo. Sempat ragu, jangan2 mereka benar-benar calo. Akhirnya kami ngetes, tanya harga tiket. Harga tiket normal buat VIP Tribun Kehormatan Rp 100.000,-, VIP Rp 75.000, Kelas 1 Rp 50.000, Kelas 2 Rp 30.000,dan Kelas 3 Rp 20.000. Ternyata yang ia jual adalah harga normal, so kami berkesimpulan dia bukan calo. Bukan tanpa alasan kami begitu takut calo, karena sebelum loket dibuka pun kami udah ditawari tiket ! 3 lembar tiket kelas 2 akhirnya kami bayar di ticket box. kelas 2 jadi pilihan karena takut ketemu supporter ganas yang biasanya ngumpul di kelas 3. Walaupun akhirnya kami tengsin juga, karena ternyata supporter yang ganas-ganas itu malah mendominasi kelas 1 :D...
Setelah adzan maghrib, kami kembali ke Senayan. Agak repot juga nyari tempat sholat maghrib dan sempat suuzon dengan panitia (PSSI). jangan-jangan nggak disediain tempat sholat, ya nggak heran lah timnas kita nggak maju-maju. He3, ternyata nggak. begitu masuk gate IX, ada tempat sholat yang walaupun seadanya tapi cukup bersih dan layak.

Selesai sholat, kami bergegas masuk tribun dengan melewati pemeriksaan petugas. Ternyata kami termasuk orang-orang yang membawa barang terlarang yaitu air mineral! si petugas langsung menggasak botol-botol air mineral kami dan memindahkannya ke plastik kecil lalu memberi kami sejumlah pipet. Ha2, sampe segitunya. Tapi wajar, dalam pertandingan sepakbola sekarang anarkisme nggak cuma ngelempar batu tapi dalam mode yang lebih lebay lagi, botol aqua ! uniknya, hal ini udah masuk standar keamanan event-event AFC. Pemeriksaan nggak berhenti di situ, di pintu tribun kami diperiksa lagi. Kali ini pakaian kami dirogoh dan yang dicari adalah korek api! beruntung kami nggak ada yang perokok jadi nggak ada masalah dgn korek api.



07.20 pemain-pemain keluar dari ruang ganti disambut sorak sorai riuh penonton. hati ini berdegup keras, panas-dingin waktu seisi stadion yang berisikan 50.000 kepala itu menyanyikan lagu Indonesia Raya. Sayangnya, penonton agak nggak respek waktu 'Advance Australian Fair' dinyanyikan. Padahal kalau mereka tahu, menghormati negeri lain itu sama dengan menghormati negeri kita sendiri.

Pertandingan berjalan alot, sampai babak kedua Indonesia praktis cuma bisa menyerang dari sayap kirinya, Elie Aiboy. Sementara Australia tampil cukup dominan walaupun nggak diperkuat skuad eropanya seperti Tim Cahill, Mark Viduka ataupun Mark Schwarzer. Hampir tidak ada wajah pemain Australia yang aku kenal saat itu. Hingga akhirnya di ujung babak kedua, datang puncak kekesalan kami atas kepemimpinan wasit. Budi yang dijegal dengan keras dalam kotak penalti tidak diberikan hadiah penalti. Nggak ada botol aqua, jeruk pun siap dilepaskan. Posisi kami cukup strategis untuk memberi hadiah jeruk hari itu, sektor 22 di tribun bawah! Untungnya, kami masih cukup sadar dan masih ingin pulang ke rumah malam itu. Walaupun kami sempat berlekelakar, kalau kami jadi melempar, setelah ini jeruk pun masuk standar kemananan AFC . Dilarang bawa jeruk ke dalam stadion.




Selasa, 27 Januari 2009

Kontroversi Halal-Haram Onani

Maaf. Ga bermaksud saru lho, tapi aku pikir banyak yang perlu tau soal ini,
terutama buat teman2 yang menanyakannya di kampus, sori aku baru inget jawabannya ada dimana...

Mengenai onani atau istimna’bil yad (bhs arab), yakni masturbasi dengan tangan sendiri. Islam memandangnya sebagai perbuatan tidak etis dan tidak pantas dilakukan. Namu para ahli hukum fiqh masih berbeda pendapat tentang hukumnya :

Pendapat pertama, Ulama Maliki, Syafi’i dan Zaidi mengharamkannya secara mutlak, berdasarkan Al Qur’an surat Al Mu’minum ayat 5-7 : Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Maka barangsiapa yang mencari di balik itu, mereka itulah orang yang melampaui batas.
Ayat ini dengan jelas memerintahkan kita agar menjaga kehormatan alat kelamin, kecuali terhadap istri dan budak kita (budak di sini ialah budak yang didapat dalam peperangan untuk membela agama)

Pendapat kedua,Ulama Hanafi secara prinsip mengharamkan onani, tetapi dalam keadaan gawat, yakni orang yang memuncak nafsu seksnya dan khawatir berbuat zina, maka ia boleh, bahkan wajib berbuat onani demi menyelamatkan dirinya dari perbuatan zina yang jauh lebih besar bahaya dan dosanya. Hal ini sejalan dengan kaidah fiqh : Wajib menempuh bahaya yang lebih ringan di antara dua bahaya.

Pendapat ketiga, ulama Hambali mengharamkan onani, kecuali kalau takut berbuat zina atau khawatir terganggu kesehatannya, sedangkan ia tidak mempunyai istri dan tidak mampu kawin, maka ia tidak berdosa berbuat onani. Jadi menurut pendapat kedua dan ketiga diatas, onani hanya diperbolehkan dalam keadaan terpaksa dan sifatnya dibatasi seminimum mungkin sesuai dengan kaidah fiqh : Sesuatu yang diperbolehkan karena darurat, hanya boleh sekedarnya saja

Pendapat keempat, Ibnu Hazm memandang makruh onani, tidak berdosa tapi tidak etis

Pendapat kelima, Ibnu Abbas, Al Hasan dan lain-lain membolehkan onani. Menurut Al Hasan : Orang islam dahulu melakukannya dalam waktu peperangan (jauh dari keluarga/istri). Dan kata seorang mujahid murid Ibnu Abbas : Orang islam dahulu mentoleransi para remaja/pemudanya melakukan onani/masturbasi. Dan hukum mubah/boleh berbuat onani tersebut berlaku bagi pria maupun wanita.

Kesimpulannya menurut Masjfuk Zuhdi, masturbasi atau onani diperbolehkan dalam situasi dan kondisi tertentu, seperti peperangan atau masa remaja (masa remaja atau strum and drang), sebagaimana diisyaratkan oleh Al Hasan dan Mujahid di atas. Namun tidak boleh dilakukan secara rutin sebab bisa mengganggu kesehatan jasmani dan rohani. Demikian pula melemahkan potensi kelamin serta kemampuan ejakulasinya, sehingga menjadi sebab gagalnya sel sperma pria menerobos masuk untuk bertemu dengan sel telur wanita (ovum)

Sumber : Masa’il Fiqhiyah Hal 45-48

Cowok Macam Apakah Kamu?

Buat yang ce nya sering nangis (hahaha, gw iya nggak ya??), ini ada tester buat mengetahui cowok macam apakah kamu?

Cowok Cuek: "Biarin Aja,paling ntar diam sendiri"
Cowok Naif: "Beliin gulali sama balon warna-warni"
Cowok Jaim: "Plz dunk jangan bikin malu gue,masa nangis sih"
Cowok gak sabaran: "Hari gene masih nangis,plzzz dech!!?"
Cowok Sensitif: "Ikutan Nangis N memble"
Cowok ahli Hipnotis: "Saya hitung 1,2,3...dihitungan ketiga anda melupakan semuanya... lupakan
semuanya... lupakan... OK!"
Cowok Pasrah: "Terserah Lo deh!!!"
Cowok Idaman: "Menangislah sepuasnya dipundakku, sambil tangannya melingkar melindungi si
cewe (kadang meraba)"
Cowok Tajir: "Beliin Mobil, Handphone..."
Cowok Romantis: "Bacain Puisi, dinyanyiin lagu NINA BOBO"
Cowok Horny: "Dibaringin ditempat tidur del el el"
Cowok Bete: "Dipeluk sambil dibisikin `kita putus aja ya` abisnya kamu cengeng banget sih say"
Cowok Narsis: "Sibuk ngambil foto diri sendiri pake N6600"
Cowok Dermawan: "Ngeluarin recehan sembari bilang May God Bless You..."
Cowok Kere: "Sory nih yang,aqu ga bisa beliin tissu..."
Cowok Santri: "Astagfirullah....tabahkan hatimu dinda."
Cowok Kritis: "Nanya ada paan sih? siapa? kenapa? dimana? kemana? kok bisa sih? ya udah...
ambil positifnya aja lah"
Cowok tulalit: "Kamu nangis dapet bonus apa ditinggal mati sih? Hiiii...kamu bisa juga nangis
yah?"
Cowok Matre: "Cewe kere Lo... nangis mulu nyusahin gue doank"
Cowok Kejam: "Hehehehe... ini belum seberapa sayang...nanti aku bisa bikin kamu tambah
sengsara sampe meraung-raung... lebih parah lagi... mau nangis lagi?"

nah, kira2 kamu masuk yg mana tuh?sayang disini kategori co ganteng gak ada :D

dari : kaskus.us